Infologi.id, Lampung – Kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke Provinsi Lampung pada Rabu (10/6/2026) diwarnai aksi unjuk rasa teatrikal yang ekstrem. Massa yang tergabung dalam Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Lampung menggelar aksi simbolik jahit mulut di kawasan Tugu Adipura, Kota Bandar Lampung.
Aksi yang berlangsung di pusat kota ini menjadi sorotan tajam para pengguna jalan yang melintas. Sejumlah peserta tampak nekat menjahit bibir mereka menggunakan benang sebagai bentuk protes keras terhadap kondisi demokrasi dan kebijakan pemerintah saat ini.
Di lokasi aksi, mahasiswa juga membentangkan spanduk bernada kritik, di antaranya “Rakyat Menjerit, Nilai Tukar Melejit” dan “Wujudkan Pendidikan Gratis, Ilmiah, dan Demokratis”.
Aksi jahit mulut ini digelar bertepatan dengan kedatangan Presiden Prabowo ke Lampung untuk meresmikan sejumlah fasilitas pelayanan publik serta membuka Munas HIPMI XVIII.
Koordinator Lapangan aksi, Josua Sitorus, menegaskan bahwa aksi ekstrem ini merupakan simbol nyata dari kondisi demokrasi Indonesia yang dinilai tengah mengalami kemunduran.
“Jahit mulut ini sebenarnya simbolis. Kami melihat bagaimana suara-suara sipil dibungkam. Padahal masyarakat sipil hanya memiliki suara dan pikiran kritis untuk menyampaikan aspirasi,” ujar Josua kepada wartawan di sela aksi.
Josua menambahkan, aksi ini juga menyuarakan jeritan hati masyarakat bawah yang terhimpit berbagai persoalan, mulai dari sulitnya lapangan pekerjaan, tekanan ekonomi, hingga kebijakan pemerintah yang dianggap kurang menyentuh kebutuhan rakyat.
Dalam aksi demonstrasi tersebut, LMND Lampung secara resmi merilis lima tuntutan utama kepada pemerintah pusat, diantaranya.
- Mendesak penarikan pajak kekayaan terhadap kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi demi memangkas kesenjangan ekonomi yang semakin menganga.
- Mewujudkan akses pendidikan yang gratis, ilmiah, dan demokratis karena ketimpangan akses pendidikan dinilai masih terjadi di berbagai daerah.
- Mendesak evaluasi total dan penghentian keterlibatan unsur militer dalam sektor-sektor publik.
- Menyoroti melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan mendesak perbaikan kondisi ekonomi makro.
- Meminta pemerintah mengevaluasi program-program besar dan mengalihkan fokus anggaran pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, seperti sektor pendidikan dan kesehatan.
Selama aksi berlangsung, aparat kepolisian tampak bersiaga ketat di sekitar Tugu Adipura untuk mengamankan jalannya demonstrasi sekaligus mengatur arus lalu lintas agar tetap kondusif. (*/Red)









