Infologi.id, Bandar Lampung — Jarum jam baru saja menunjuk angka 00.05 WIB pada Minggu dini hari, 6 September 2026. Di sebuah sudut sunyi di Kecamatan Labuhan Ratu, Kota Bandar Lampung, hening malam menyelimuti sebuah rumah yang juga difungsikan sebagai sekretariat Lembaga Swadaya Masyarakat Komite Anti Korupsi Indonesia (LSM KAKI) Lampung.
Di teras kantor tersebut, Lucky Nurhidayah, Ketua LSM KAKI Lampung, sedang menikmati masa rehatnya. Di tangannya, cangkir kopi hangat menjadi teman setia menembus dinginnya malam. Namun, ketenangan itu mendadak buyar ketika matanya menangkap pergerakan mencurigakan di batas pagar luar.
Dua orang tak dikenal (OTK) mengendap-endap mendekat. Gerak-gerik mereka terburu-buru, mencoba memanjat pagar perimeter rumah. Yang membuat atmosfer malam itu berubah mencekam, salah satu di antara mereka membawa sebuah jerigen plastik berkapasitas lima liter, yang diduga kuat berisi bahan bakar minyak jenis bensin.
Rencana aksi misterius itu buyar seketika saat menyadari Lucky tengah berada di luar. Begitu sadar pergerakan mereka kepergok, kedua OTK tersebut langsung berbalik arah dan melesat menghilang ke pekatnya malam.
“Ketika saya sedang duduk di luar sambil minum kopi, ada dua orang yang mencoba mendekati dan diduga hendak memanjat pagar. Salah satunya membawa jerigen sekitar lima liter yang diduga berisi bensin. Begitu kepergok, mereka langsung lari,” ungkap Lucky mengingat detik-detik menegangkan tersebut.
Meski tak ada barang yang raib malam itu, peristiwa ini menyisakan alarm kewaspadaan tinggi. Lucky meyakini insiden tersebut bukanlah aksi kriminalitas biasa, melainkan intimidasi terstruktur. Dugaan itu kian menguat lantaran dalam beberapa hari terakhir, pergerakan mencurigakan terlihat beberapa kali mengintai sekitar kantor mereka.
Selama ini, LSM KAKI Lampung memang dikenal aktif dan vokal membongkar berbagai dugaan penyimpangan serta tindak pidana korupsi di Provinsi Lampung. Ketajaman peran kontrol sosial inilah yang diduga membuat pihak-pihak tertentu merasa gerah dan terganggu.
Namun, jika jerigen bensin di tengah malam itu dimaksudkan untuk menyemai rasa takut, sasaran mereka keliru. Bagi Lucky dan rekan-rekannya, gertakan semacam itu justru menjadi pembuktian bahwa kerja-kerja pengawasan mereka berada di jalur yang benar.
Ia pun menyerukan pesan terbuka kepada seluruh elemen gerakan sipil dan media agar tidak gentar melangkah.
“Kami mengajak seluruh aktivis dan wartawan untuk tidak takut terhadap teror-teror murahan seperti ini. Tetap kritis dan jalankan fungsi masing-masing sesuai koridor hukum,” tegas Lucky.
Bagi LSM KAKI Lampung, mundur bukanlah pilihan. Rasa takut hanya akan melapangkan jalan bagi para penyeleweng uang negara untuk bertindak semakin leluasa.
“Tekad kami adalah melawan sikap premanisme dan teror. Jangan takut. Karena ketika kita takut, mereka akan semakin leluasa menjalankan praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) serta menggerogoti uang negara,” lanjutnya mantap.
Kini, bola berada di tangan aparat penegak hukum. Publik menantikan langkah cepat kepolisian untuk membongkar siapa dalang di balik jerigen bensin malam itu, demi memastikan ruang demokrasi dan kontrol sosial di Lampung tetap aman dari ancaman pembungkaman. (*/Red)









