Menu

Mode Gelap

Breaking News · 6 Sep 2026 00:59 WIB ·

Bahaya dan Berkah Debu Vulkanik Anak Krakatau


 Ilustrasi Perbesar

Ilustrasi

Oleh: Eri Romadhon,S.E

Bagi masyarakat pesisir Selat Sunda, endapan debu halus beraroma belerang yang menyelimuti pekarangan rumah dan jalanan kerap dipandang sebagai ancaman. Masker terpasang rapat, penyemprotan air digencarkan, dan imbauan kesehatan menggema di berbagai lini media. Namun, di balik paparan kelabu yang tampak meresahkan itu, alam sebenarnya sedang menyajikan dua sisi mata uang. Ancaman jangka pendek yang harus diwaspadai, dan “tabungan” kesuburan untuk masa depan.

Ancaman Nyata bagi Kesehatan dan Ruang Gerak

Dalam jangka pendek, bahaya debu vulkanik tidak bisa dipandang sebelah mata. Material halus yang dimuntahkan Gunung Anak Krakatau terdiri dari partikel silika dan mineral bersudut tajam (microscopic glass fragments). Ketika terhirup dan terkena mata, partikel berukuran mikron ini dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memicu timbulnya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) serta iritasi pada mata, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penderita asma.

Selain masalah kesehatan, debu vulkanik juga mengancam keselamatan bertransportasi. Lapisan abu yang menumpuk di jalan raya dapat membuat permukaan jalan menjadi sangat licin saat terkena sedikit air, sekaligus menurunkan jarak pandang pengendara secara drastis. Di sektor pertanian, paparan abu yang terlalu tebal dalam waktu singkat juga berisiko merusak tanaman akibat beban fisik dan tertutupnya pori daun dari sinar matahari.

Berkah Terselubung untuk Kesuburan Bumi

Kendati menghadirkan ancaman secara langsung, kajian geologi dan ilmu tanah (edafologi) mencatat bahwa abu gunung api merupakan mineral mentah kaya nutrisi yang dilepaskan langsung dari perut bumi. Dalam literatur tanah vulkanik, material ini tergolong sebagai tephra kristal mineral halus yang membeku secara cepat saat erupsi.

Buku Soils of Volcanic Regions karya Shoji et al. (1993) menjelaskan bahwa pelapukan abu vulkanik secara alami akan membentuk jenis tanah Andisol. Jenis tanah ini diakui dalam dunia sains sebagai salah satu tanah paling subur di planet bumi karena kapasitasnya yang luar biasa dalam mengikat unsur hara dan menyimpan air.

Abu vulkanik kaya akan unsur hara harian tanah seperti Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Kalium (K), Fosfor (P), hingga Besi (Fe) dan Belerang (S). Ketika abu Anak Krakatau hinggap di lahan daratan Lampung dan Banten, material tersebut bertindak sebagai remineralisasi tanah alami yang mengoreksi tingkat keasaman (pH) sekaligus membenahi struktur tanah yang padat.

Siklus Pembaruan Ekosistem

Efek positif abu vulkanik memang membutuhkan waktu. Melalui bantuan air hujan dan mikroorganisme tanah, proses pelapukan (weathering) akan melarutkan unsur hara tersebut hingga siap diserap oleh akar tanaman dalam kurun waktu beberapa bulan hingga beberapa tahun ke depan. Sektor perkebunan lada, kopi, dan tanaman pangan di wilayah Lampung secara historis sangat bergantung pada deposit vulkanik Krakatau sejak ratusan tahun silam.

Erupsi Gunung Anak Krakatau adalah pengingat akan dinamika alam. Penanganan ketat dan disiplin mitigasi, seperti memakai masker dan menjaga keselamatan berkendara adalah keharusan untuk meredam bahayanya saat ini. Namun di balik masker dan sapuan debu hari ini, alam Selat Sunda sejatinya sedang memperbarui ekosistemnya demi memupuk kesuburan daratan di masa mendatang. (Red)

Artikel ini telah dibaca 9 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Syahroni Yusuf: Foto Jurnalistik Adalah Bahasa Visual Penyampai Fakta, Bukan Rekayasa

16 September 2026 - 18:46 WIB

Menko Pangan Zulhas Garansi Bantuan Beras untuk 182.398 KPM Lampung Selatan Cair Hingga Akhir 2026

14 September 2026 - 21:06 WIB

Sinergi PWI dan PT PHE OSES Gelar UKW Madya di Lampung Timur

14 September 2026 - 20:37 WIB

Pemkot Bandar Lampung Salurkan 35.193 BPJS Ketenagakerjaan untuk Pekerja Rentan hingga RT

14 September 2026 - 20:35 WIB

Laporan Warga Hampir 2 Tahun Mengendap, LBH Panrita Keadilan Ultimatum Polres Tulang Bawang

14 September 2026 - 20:20 WIB

Ekosistem Bioetanol Tegineneng Dimulai, Lampung Siap Mandiri Energi

14 September 2026 - 18:32 WIB

Trending di Breaking News
error: Content is protected !!